Home / POLKUMHAM

Keberatan Dengan Eksekusi Kejaksaan, Kuasa Hukum Rektor STT Setia Ajukan Pra Peradilan

Kamis | 08 Agustus 2019 | 22:28:51 WIB
Keberatan Dengan Eksekusi Kejaksaan, Kuasa Hukum Rektor STT Setia Ajukan Pra Peradilan FOTO | ISTIMEWA

METROHEADLINE.COM — Terpidana Rektor Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar (STT Setia) Matheus Mangentang dan mantan Direktur STT Setia Ernawaty Simbolon melalui Kuasa hukum Herwanto Nurmansyah, mendatangi kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Timur (Jaktim), Kamis (8/8/2019).

Kedatangan Herwanto untuk mengajukan pra peradilan terkait eksekusi yang dilakukan oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Timur (Kejari Jaktim) terhadap dua terdakwa yakni Rektor STT Setia, Matheus Mangentang dan Direktur STT Setia, Ernawati Simbolon.

"Sesuai putusan tidak ada diperintahkan mengeksekuisi, jaksa salah melaksanakan hukum", ujar Kuasa Hukum terdakwa, Herwanto yang juga didampingi oleh Dwi Putra Budianto serta istri dari Matheus Mangentang.

Herwanto mengatakan bahwa dalam melaksanakan eksekusi, jaksa tidak menyertakan seluruh putusan dari pengadilan. Ada point yang tidak dimasukkan oleh jaksa, "Ada point 4 yang menyatakan bahwa para terdakwa tetap pada tahanan kota", katanya.

Untuk itu, Herwanto menjelaskan bahwa upaya Pra Peradilan ini dilakukan untuk menguji apakah kewenangan yang dilakukan oleh jaksa tersebut sudah benar atau tidak.

"Pra Peradilan ini adalah untuk menguji apakah kewenangan itu sudah dilakukan dengan semestinya atau melampaui kewenangannya", ujarnya.

Hal yang menyedihkan, menurut Herwanto yakni proses eksekusi Matheus Mangentang yang dilakukan saat berada di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kemayoran. "Yang sangat menyedihkan buat kami Pak Matheus itu dieksekusi saat berada di rumah sakit, masih ada bekas infusan", tandasnya.

Herwanto, mengaku keberatan dengan eksekusi yang dilakukan oleh kejaksaan. Dia menegaskan, kliennya bukanlah seorang buronan.


"Matheus Mangentang bukan buronan karena tanggal 29 Juli 2019 kami menyampaikan surat permohonan penundaan eksekusi karena sakit dan dalam berita acara pelaksanaan putusan pengadilan jaksa sengaja tidak memuat poin 4 dalam putusan yang isinya menyatakan para terdakwa tetap ditahan dalam tahan kota. 


Artinya ada yang disembunyikan oleh jaksa terhadap isi putusan oleh karena itu hari ini kami akan menyampaikan permohonan praperadilan. 


Kami juga sangat menyayangkan eksekusi yang dilakukan oleh Kejaksaan Jaktim terkesan tidak manusiawi karena dilakukan di rumah sakit saat klien kami sedang diinfus," ujar Herwanto. (Red)



Penulis:
Editor: Redaksi