Home / EKONOMI

Trade Mall APL Bangun E-Commerce Wujudkan Daya Tarik  Belanja Offline

Sabtu | 05 November 2016 | 11:10:14 WIB
Trade Mall APL Bangun E-Commerce Wujudkan Daya Tarik  Belanja Offline FOTO | ISTIMEWA

METROHEADLINE.COM — Jakarta - Pengembang properti terbesar di Indonesia, Agung Podomoro Land (APL) wujudkan daya tarik wisata belanja offline, dan sesuai perkembangan merencanakan bangun layanan online untuk pedagangnya yang sebagian besar UKM. TM APL hingga kini telah memiliki 10 trade mall (TM) di Jakarta dan Balikpapan, tercatat jumlah pengunjungnya tembus 300.000 - 500.000 setiap harinya.

AVP Marketing TM Agung Podomoro, Ho Mely Suryani mengatakan saat ini jumlah pengunjung di TM kita variatif. Satu mall dikunjungi 30.000 orang, saat ini kita sudah punya 10 mall di Jakarta dan satu di Balikpapan. Banyaknya pengunjung menunjukkan wisara belanja semakin membaik, dan Indonesia sendiri sudah bisa menjadi center belanja tidak hanya fashion saja, juga ada tools dan elektronik," jelasnya Jakarta, Jumat (04/11/2016).

Jumlah pengunjung yang mencapai angka tersebut, hanya di lokasi pusat perbelanjaan yang kerap dikunjungi. Seperti pusat grosir Blok B, Tanah Abang, TM yang banyak dikunjungi dari luar Jakarta bahkan mancanegara seperti dari China, negara Afrika, Nigeria juga Timur Tengah dari Arab Saudi, Qatar dan Dubai.

Selain itu, TM Lindeteves Trade Center (LTC) di Glodok Jakarta Barat, yang menjual perangkat/perkakas pertukangan, sparepart, water treatment, onderdil automotive, power generator/genset, electronic - electrical equipment and supplies, safety equipment, LED dan alat komunikasi seperti radio transmitter, HT, GPS dan digital radio system, ternyata kerap didatangi wisatawan dari China, Australia, New Zealand, juga negara-negara Asia lainnya.

Begitu juga TM lainnya seperti TM Thamrin City yang menjadi pusat batik di Jakarta juga diserbu pedagang dari Sumatera, Jawa juga negara tetangga seperti Malaysia, Brunei dan sebagaian negara Afrika yang memburu batik dengan harga yang kompetitif. "Taman Mall itu kerap diserbu pedagang grosir dari daerah juga mancanegara," ungkap Mely.

Lebih lanjut Mely menjelaskan, Agung Podomoro Group menargetkan tingkat okupansi 10 pusat perbelanjaannya mampu terisi penuh dalam kurun waktu tiga sampai empat tahun. Pasalnya, saat ini tingkat okupansi baru mencapai 80 persen dari seluruh unit terjual. "Tingkat okupansi saat ini 80 persen semua dari unit-unit terjual. Harus sampai mendekati full ya dalam 3-4 tahun ke depan," tuturnya.

Sementara disinggung apa ada rencana pembukaan TM baru? "Kalau dalam waktu dekat, belum memiliki rencana untuk mendirikan ruang ritel baru. Bila pun ada, perseroan akan terus mengembangkan ruang ritel baru di sekitaran Jabodetabek.

Apalagi pusat perekonomian Indonesia masih berpusat di Jakarta. Jadi kita konsentrasi ya di Blok B Tanah Abang, Mangga Dua, dan lainnya," pungkasnya.

Namun demikian, sambung Mely, tahun 2017, TM Agung Podomoro Group akan membuka layanan kemudahan dengan mengakses internet yang membuat semua pihak tanpa terkecuali bisa melakukan kegiatan berjualan dan berbelanja secara praktis, mudah, dan murah. Apalagi kini terjadi fenomena belanja online.

Bahkan, akibat adanya fenomena belanja online pun banyak pusat perbelanjaan mulai sepi dikunjungi oleh pengunjung. "Namun sepinya bukan terjadi di bawah payung Agung Podomoro Group. Hingga saat ini ke-10 TM masih tergolong cukup stabil jumlah pengunjungnya," ungkapnya serius.

Menurut dia, terutama masih banyaknya masyarakat, terutama ibu-ibu yang lebih menyenangi berbelanja dengan cara mendatangi langsung ke pusat perbelanjaan guna melihat barang yang akan dibelinya. Hal ini tentu saja agar barang yang akan dibeli sesuai dengan ekspektasi.

"Sampai saat ini masih cukup stabil. Apalagi ibu-ibu biasanya lebih cocok untuk datang langsung, pegang langsung bahannya, ukurannya terkadang di online berbeda dengan sesungguhnya," katanya.

Meski demikian, dia memandang pedagang yang menjajakannya barang dagangannya secara online dan offline pun masih terbilang cukup berimbang. Fenomena belanja online yang terjadi di Indonesia, terutama Jakarta menjadi terbilang cukup unik. "Jadi walaupun mereka bisnis online, tapi punya outlet offline juga," tandasnya.(red)



Penulis:
Editor: Redaksi